• 30

    Jan

    Hujan

    Hujan turun deras sekali, tiba-tiba pula. Serta merta barisan karnaval itu bubar, dan masing-masing mencari tempat berteduh sedapatnya. Tak terkecuali aku dan kau. Aku seolah bergegas, tapi ekor mataku mencuri tahu ke arah mana langkahmu mengarah. Dan aku pun bersikap seolah tujuanku pun sama sepertimu. Sekarang kau dan aku ada di pelataran toko kelontong yang sepi pengunjung. Bajuku basah, dari rambutku menetes air bekas kena hujan tadi. Ekor mataku kembali mencuri pandang ke arahmu, memperhatikan sosokmu yang seolah tak peduli pada hadirku. Sejenak aku kesal, masak sih tidak melihatku berdiri di sini? Masak sih tak ingin kau menyapaku? Sedemikian tak pedulinyakah kau padaku? Terbersit rasa sedih di hati memikirkan kemungkinan ini. Di ujung kesalku, tiba-tiba mata kita bersirobok, rup
  • 29

    Jan

    FF: Es Krim

    Di pojok kamar tidur inilah dia melihatku bersimpuh berderai airmata. Perlahan dia beringsut mendekati dan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Isakku mengeras, tanpa satu kata pun keluar. “Kenapa?” pelan dia bertanya. Aku masih tak mampu menjawab dan terus menangis. Dibelainya rambutku dan diusapnya tanganku. Masih belum ada kata terucap. Hanya terdengar suara tangis. Perlahan dia melepasku, beranjak pergi. Sejenak tangisku tersendat, menatap punggungnya yang bergerak meninggalkanku. Hanya sejenak, dan aku kembali tenggelam pada rasa duka yang mendalam. Tiba-tiba dia kembali dengan sekantung plastik putih di tangan. Sempat kulirik logo di plastik itu, dari minimarket depan rumah rupanya. Tangisku belum berhenti, dan hampir saja aku tak mampu menahan tawa ketika melihat apa ya
  • 27

    Jan

    FF: Soto Koya

    “Tolong belikan mama soto koya pas pulang kerja nanti ya mas. Jangan lupa jeruk dan sambelnya dilebihin.” begitu bunyi SMS mama yang baru saja masuk. Aduh, mama niy, pakai nitip segala, ‘kan aku masih banyak kerjaan, ga bisa juga pulang cepet. “Halo … mama?” “Ya mas? Terima sms mama tadi ‘kan?” “Ada ma, tapi mas ga bisa Ma. Masih banyak kerjaan, paling tengah malam baru pulang. Mama beli di dekat situ aja ya.” “Yah mas, mama pengen yang didekat kantor mas itu. Lebih enak rasanya.” “Tapi ma, kalau mas beli sekarang, nanti udah dingin pas mas pulang. Besok kalau pulang cepat, mas janji deh beli soto koya buat mama. ok Mam?” “Ga mau ah, mama tetep maunya mas belikan. Biar dingin tidak apa,
  • 26

    Jan

    FF#15a: SAH

    Sore itu hujan turun, berkali-kali suara guntur bersahutan dengan kilat petir, menciutkan hatiku yang sedang gelisah. Termangu aku berdiri di ambang pintu, menatap bulir hujan yang memercikkan tanah merah ke teras kecil rumah ini. Tatapanku kosong, perasaanku nelangsa. Terbayang kembali pada peristiwa sembilan tahun yang lalu, aku yang disandingkan denganmu, jariku yang kau sematkan cincin bermata berlian itu masih setia melingkar manis di jariku sampai sekarang. Hanya sembilan tahun saja kukecap manisnya madu pernikahan kita.Tergambar kembali semua prosesi pernikahan kita dulu, semua yang hadir penuh gelak tawa suka cita. Sedikitpun tak pernah terbersit isyarat kesedihan di antara yang hadir. Memang pernikahan kita begitu dinanti-nantikan, dan hari itu, kumandang kata SAH diikuti ucapan
  • 26

    Jan

    FF#15b: Menikahlah Denganku

    “Menikahlah denganku.” ucapmu tegas. “Tapi mas … “ “Gak pakai tapi-tapi. Sudah terlalu lama kita menunggu, mau sampai kapan lagi? Sepertinya ibu dan bapak memang sudah tidak menyukaiku sejak awal.” keluhmu. “Aku tau mas, tapi bagaimana bisa aku menikah tanpa restu orang tuaku?” “Apa yang harus kulakukan agar kau mau menikah denganku? Orangtuaku pun sudah sepuh, dan sudah bosan aku mencari-cari alasan agar mereka mau lebih bersabar.” “Kalau mas mendesak terus, aku jadi bingung. Mas tahu ‘kan hatiku pasti memilihmu, tapi tak berani aku melangkah tanpa restu.” “Iya, hatimu memilihku, tapi kau tidak tegas, dik. Dan usia kita sudah tidak muda lagi.” “Aku tahu … aku tahu … t
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post