Hujan turun deras sekali, tiba-tiba pula. Serta merta barisan karnaval itu bubar, dan masing-masing mencari tempat berteduh sedapatnya. Tak terkecuali aku dan kau. Aku seolah bergegas, tapi ekor mataku mencuri tahu ke arah mana langkahmu mengarah. Dan aku pun bersikap seolah tujuanku pun sama sepertimu. Sekarang kau dan aku ada di pelataran toko kelontong yang sepi pengunjung.

Bajuku basah, dari rambutku menetes air bekas kena hujan tadi. Ekor mataku kembali mencuri pandang ke arahmu, memperhatikan sosokmu yang seolah tak peduli pada hadirku. Sejenak aku kesal, masak sih tidak melihatku berdiri di sini? Masak sih tak ingin kau menyapaku? Sedemikian tak pedulinyakah kau padaku? Terbersit rasa sedih di hati memikirkan kemungkinan ini.

Di ujung kesalku, tiba-tiba mata kita bersirobok, rupanya kau pun sedang mencuri pandang ke arahku.

“Hai … ” sapamu

“Eh … ” aku melempar senyum, sekaligus sibuk menenangkan debar jantungku yang sudah tak karuan dari tadi.

“Gawat niy kalau hujannya lama….” kudengar itu, tapi entah kau bicara pada siapa, padaku kah?

“Iya … “sahutku singkat. Sebetulnya itu karena aku bingung mau berkata apa.

“Anak kelas 1A bukan?” tanyamu sambil melempar senyum. Senyum yang telah membuatku susah tidur sejak mengenalmu.

“Iya. Kamu anak kelas 1B kan?”

“Eh kok tau?

“Ups .. !” aku tersipu malu, entah seperti apa rupa wajahku sekarang, tapi kurasakan panas di sekitar wajahku. Doh :(

“Aku belum pernah melihatmu di sekolah. Tapi kok kamu tau aku dari kelas 1B?” tanyamu lagi. Aduuh, bagaimana ini? Ketahuan deh belangku, ketahuan deh kalau aku sering mencari tahu tentang dia. Emaaak …… anakmu mau mati saja.

“Tau dong, ‘kan ada yang kasih tau.”

“Kok bisa tau? Cari tahu yaaa….” eh dia berani menggodaku sekarang? Ups, itu menggoda bukan sih? Berharap sih.

“Bukan mencari tahu, tapi kemarin Om yang bilang, kalau ada anak tetangganya yang masuk kelas 1B. Dan pas kamu lewat, jadi tau deh. Begitu! GR aja, huh!” sahutku judes.

“Ooh begitu, padahal sih tadi emang udah GR hehehe …. kecewa deh sekarang.” Eh apa katanya? Kecewa? Kucubit tanganku, eh kok sakit?

“Kenapa kecewa?”

“Ah engga … eh hujannya tinggal gerimis, kita jalan yuk.”

“hayu deh … ”

Sepanjang perjalanan menuju sekolah kita diam membisu sambil sesekali saling melempar senyum. Sesekali kau menungguku bila aku sudah tertinggal jauh di belakangmu. Dan buatku, hari itu adalah hari terindah yang bisa kuingat. Hujan telah memberiku kesempatan berdekatan denganmu. Terima kasih, hujan!

Catatan:

Saat tulisan ini dibuat, di luar hujan memang sedang turun deras :)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • TwitThis
  • Facebook
  • Google
  • LinkedIn
  • Live
  • Mixx
  • MySpace
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Tumblr
  • Yahoo! Buzz
  • E-mail this story to a friend!
  • Print this article!