Di pojok kamar tidur inilah dia melihatku bersimpuh berderai airmata. Perlahan dia beringsut mendekati dan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Isakku mengeras, tanpa satu kata pun keluar.

“Kenapa?” pelan dia bertanya. Aku masih tak mampu menjawab dan terus menangis. Dibelainya rambutku dan diusapnya tanganku. Masih belum ada kata terucap. Hanya terdengar suara tangis. Perlahan dia melepasku, beranjak pergi. Sejenak tangisku tersendat, menatap punggungnya yang bergerak meninggalkanku. Hanya sejenak, dan aku kembali tenggelam pada rasa duka yang mendalam.

Tiba-tiba dia kembali dengan sekantung plastik putih di tangan. Sempat kulirik logo di plastik itu, dari minimarket depan rumah rupanya. Tangisku belum berhenti, dan hampir saja aku tak mampu menahan tawa ketika melihat apa yang ada di dalam plastik itu. Dikeluarkannya  sebungkus es krim kesukaanku, dilepasnya bungkusnya, dan didekatkannya ke mulutku.

“Makan es krim dulu ya neng.” bujuknya.

Tangisku mulai melemah, bimbang antara meneruskan tangis atau tertawa senang. Godaan es krim sangat tak tertahankan. Tapi aku gengsi! Masak aku bisa dibujuk hanya dengan setangkai es krim? Di mana harga diriku? Aku berusaha keras, memaksa diri meneruskan tangis, tapi sudah tak bisa. Konsentrasiku sudah buyar, dan es krim dalam bungkus ungu itu begitu menggoda. Seperti tak henti memanggil namaku untuk melahapnya.

Ditempelkannya es krim itu ke bibirku lagi, aku pura-pura tak suka. Kudorong tangannya menjauh, tapi dia seperti tahu aku melakukannya dengan setengah hati, sehingga dia mengulanginya lagi. Kali ini dia melakukannya sambil memasang mimik lucu di wajahnya, aku benci jika dia sudah begitu. Aku tahu dalam hitungan detik aku pasti akan kalah. Ahhh … !

Benar saja, otak dan mulutku tidak kompak, sehingga akhirnya es krim berhasil merangsek masuk. Dan semua mencair seperti es krim yang melumer di dalam mulutku. Tak ada lagi isak tangis, walau masih tanpa kata. Sambil menikmati es krim, masih kutahan agar mataku tak menatapnya. Masih ada rasa kesal, tapi tak lagi seperti awal tadi rasanya, sudah terminimalisir rasa es krim pemberiannya. Kemudian aku berpikir, pada siapa aku harus berterima kasih, es krim atau dia? Entahlah, sudah tak penting itu, asal aku bisa menyesap es krim ini sampai habis.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • TwitThis
  • Facebook
  • Google
  • LinkedIn
  • Live
  • Mixx
  • MySpace
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Tumblr
  • Yahoo! Buzz
  • E-mail this story to a friend!
  • Print this article!