Sore itu hujan turun, berkali-kali suara guntur bersahutan dengan kilat petir, menciutkan hatiku yang sedang gelisah. Termangu aku berdiri di ambang pintu, menatap bulir hujan yang memercikkan tanah merah ke teras kecil rumah ini. Tatapanku kosong, perasaanku nelangsa.
Terbayang kembali pada peristiwa sembilan tahun yang lalu, aku yang disandingkan denganmu, jariku yang kau sematkan cincin bermata berlian itu masih setia melingkar manis di jariku sampai sekarang. Hanya sembilan tahun saja kukecap manisnya madu pernikahan kita. Tergambar kembali semua prosesi pernikahan kita dulu, semua yang hadir penuh gelak tawa suka cita. Sedikitpun tak pernah terbersit isyarat kesedihan di antara yang hadir. Memang pernikahan kita begitu dinanti-nantikan, dan hari itu, kumandang kata SAH diikuti ucapan hamdalah begitu menentramkan setiap hati yang mendengarnya. Airmata bahagia menganak sungai di pipiku, tapi segera kau keringkan dengan mesranya. Sanak keluarga tersenyum melihat sikapmu yang memperlakukanku penuh kasih.
Setahun yang lalu badai mulai menghampiri keluarga kecil kita. “Ibu sudah sepuh, dik, mas anak tunggal, tidak mungkin mas menunggumu lebih lama lagi. Kumohon keikhlasanmu, toh jika nanti anak kami lahir, kau juga bisa ikut mengasuhnya, kita bisa membesarkannya bersama-sama.”
“Tapi mas, aku tidak ingin berbagi dirimu dengan siapapun. Apalagi dokter mengatakan kita berdua sehat, ini cuma masalah rejeki dari Tuhan. Kita harus lebih berusaha dan bersabar, mas.” Ucapanku tak sedikitpun kau gubris, membuatku bertanya-tanya, sebenarnya masihkah ada cinta untukku di hatimu?
Dua bulan berselang, kumandang kata SAH masih diikuti ucapan hamdalah yang sama kembali terdengar, tapi sama sekali tak menentramkan hati apalagi jiwaku. Sebaliknya, aku bahkan ingin pergi menjauh agar tak usah mendengar dan melihat suasana yang penuh sukacita ini. Tapi itu tak mungkin kau lakukan, karena kau telah membuatku berjanji untuk tetap mendampingimu sampai acara itu selesai. Aku duduk tertunduk sengaja persis di belakangmu, berharap tak usah melihat raut bahagia di wajahmu dan dia.
Sesekali kuelus perutku yang belum terlihat membusung. Sudah 3 bulan Tuhan mempercayakan jabang bayi yang telah lama kita nantikan, jabang bayi yang membuat orang tuamu uring-uringan sejak tahun pertama pernikahan kita. Tak mampu aku menggambar rasa hatiku. Anak yang kita nanti-nantikan akan hadir, tapi kita justru tak bisa selalu bersama menghabiskan waktu bertiga. Sekarang saja kulihat kau sudah kesulitan membagi waktumu, antara aku dan dia, yang juga sudah mengandung anakmu sejak 6bulan yang lalu.
Hatiku menjerit hendak bertanya pada Sang Pemilik Kehidupan tentang rahasia dari semua ini. Dan benakku terus berandai-andai, andai saja mereka mau bersabar? Andai saja Tuhan mengijinkanku hamil sebelum pernikahan itu terjadi? Andai saja, orangtuamu tidak terus mendesakmu? Andai saja hatimu seteguh karang mempertahankan keberadaanku sebagai istrimu satu-satunya?
Dengan hati yang galau perlahan aku berjingkat melangkah ke kamar, kuraih sebilah pisau dan menatap nanar sosokku yang tampak di cermin meja rias. Tiba-tiba terngiang keras kata SAH itu lagi ditelingaku, membuatku kalap, kemudian ku terkapar bersimbah darah. Sejenak aku masih sadar mencoba berteriak namun tak ada suara yang terdengar. Samar, dan semua menjadi gelap!

















ngeri bacanya… kok asmpe segitunya?
[Reply]
nicamperenique Reply:
Januari 26th, 2012 at 3:45 pm
putus asa dia, daripada ntar anaknya ga dapet kasih sayang emak bapaknya, mendingan matek aja deh hehehe
[Reply]
uhuyyyy….ini fiksi yachhh…keren banget…dah bisa bikin buku kalo kayak begini mahh……2 jempol utk mbak nique
[Reply]
nicamperenique Reply:
Januari 26th, 2012 at 3:45 pm
jiahhh baru juga belajar mba .. gimana mo bikin buku xixixi
[Reply]
Hehe… udah bisa jadi sinetron nih ceritanya
Ehm… Mbak Nique sabar ya…
#ikutan megang perut sendiri
[Reply]
nicamperenique Reply:
Januari 26th, 2012 at 4:19 pm
hahaha napa perutnya dipegangin mba? baru dapet ya? hihihihi
[Reply]
aih…trageeeessss
[Reply]
nicamperenique Reply:
Januari 26th, 2012 at 8:36 pm
hehehehe ….
[Reply]
wow, ternyata akhir cerita nya gak kelacak ya, kren keren uey, tujuh jempol deh buat yang ini ^_^
[Reply]
nicamperenique Reply:
Januari 27th, 2012 at 8:55 am
hehehe …. tersanjung sayah
[Reply]
Siap digabung trus diterbitkan Ni…
[Reply]
nicamperenique Reply:
Januari 28th, 2012 at 7:53 pm
woooooooooo
masih jauh pak, perlu dipoles sana sini
tapi pengen deh bisa nulis yang bukan cinta2an
[Reply]
Saya suka judulnya, sangat pendek tapi menarik. Saya penasaran dengan isinya hanya dengan judul ini.
Setelah membacanya, kata SAH ternyata memang cocok untuk FF ini. Akhirnya seru, tragis. Mbak Nique berani juga mengambil ending seperti ini yah
[Reply]
Tuh meneh,,, tentang orang meninggal lagi @_@
Hihihi baca cerita FF Mbak Nique, jadi kebawa emosinya loh.
Beneran…
Waktu baca, bener deh rasanya pengen nyodorin piso ke suaminya si tokoh aku itu… :-s
[Reply]
Dari judulnya udah bikin penasaran. Sah apa sih? Jadi menebak nebak arah cerita. Ternyata endingnya serem juga. Mungkin kalau lebih bisa memainkan emosi pembaca, bakal lebih keren lagi.
Tapi ini keren kok
Kalo boleh, saya les privat buat yang kayak beginian doong
[Reply]
alangkah bagusnya jika cerita diawali dengan gembira, ini memang berawal gembira, tapi kegembiraannya terungkap kesedihan di akhirnya, gaya ceritanya sudah menunjukkan akan berakhir tidak menyenangkan..
[Reply]
Hai Kak, aku ceritanya mau krisan nih ya (bacanya lompat2 tapi) qiqiqi..
di paragraf terakhir, (menurutku) kurang logis aja kalo di kamar kok ‘ujug-ujug’ ada sebilah pisau. Ini sih ilmu yg aku dapet waktu belajar creative writing kmrn, walopun fiksi harus tetap logis, kecuali dr awal memang sudah berniat alegoris atw menggunakan simbol2. IMHO lho ya
[Reply]
ngeri mbak ceritanya, tapi aku suka. pas baca nggak tau ya kok seakan saya ikut masuk ke cerita itu.. deskripsinya oke
[Reply]
Ah,,, lebay…
Hihi….
(sik sik, durung tak woco kabeh ding).
Mbak Niq terlalu mendramatisir kehidupan pribadinya
Eh yen tak pikir2 tokoh utama dalam FFnya Mbak Niq koq orang pertama teruss ya… Haha
Langsung ajah,
KRITIK :
1. Miskin dialog (wuhehe,,he,he.. emang paling enak mung ngritik, maido thok we koq).
2. Sama dng kritik “es krim” tadi. Gak Realistis. (apa karena namanya Fiksi gituh ya ^.^a). Masak baru nikah 2 bulan, gara2 mertua pingin cucu koq ya disuruh nikah lagiiii.
SARAN : Embuh, udah gak bisa kasih saran. Lah wong saya juga belum tentu bisa membuatnya…
[Reply]
nicamperenique Reply:
Maret 12th, 2012 at 6:24 pm
padahal gak ada kaitannya lho dengan kehidupan pribadi saya
[Reply]
Tragis diujungnya kusesalkan, kenapa begitu akhirnya ya, coba dibuat happy ending
[Reply]
Yang ini juga boleh kan..?
Nah, aku suka sekali FF yang ini dan aku dapat ikut merasakan penderitaan sang tokoh.
Hanya saja aku jadi penasaran, apakah sang suami tahu bahwa sang istri sudah hamil 3 bulan saat dia memutuskan menikah lagi? Bukankah ketika haid terlambat seminggu saja, sudah membuat orang yang 9 tahun menunggu bisa langsung panik dan harap2 cemas untuk segera memeriksakannya?
Aku juga penasaran, apakah nyawa sang istri dapat diselamatkan? Endingnya mengejutkan… tapi masih menggantung rasanya. Belum ada kejelasan di situ.
Oya, niat bunuh diri sang istri terkesan sudah direncanakan (bukan niat yang muncul tiba-tiba) karena di kamar sudah tersedia sebilah pisau. Benarkah begitu?
Untuk kalimat : Sebaliknya, aku bahkan ingin pergi menjauh agar tak usah mendengar dan melihat suasana yang penuh sukacita ini. Tapi itu tak mungkin kau lakukan, karena kau telah membuatku berjanji untuk tetap mendampingimu sampai acara itu selesai. >>>> sepertinya ada salah ketik ya? Harusnya kalima : Tapi itu tak mungkin kau lakukan, harusnya kan : Tapi itu tak mungkin kulakukan.
Sukses utk FFnya ya mbak… makin sering menulis, maka tulisannya akan makin bagus deh. Semangat ya..
[Reply]
nicamperenique Reply:
Maret 11th, 2012 at 1:27 am
akhirnya mba Reni muncul juga di sini
terima kasih sudah meluangkan waktunya ya mbak
[Reply]
the others... Reply:
Maret 13th, 2012 at 8:52 am
Ternyata aku yg komen terakhir disini ya mbak? hehehe
[Reply]